Wednesday, February 24, 2016

Untuk Kamu yang Telah Aku Kagumi Sejak Lama, Terimakasih Menyadari Keberadaanku


Dulu aku selalu bertanya-tanya
Mengapa Qays bisa gila ketika Laila meninggalkannya,
Juliet dan Romeo, berdua menghabisi nyawa karena tak bisa bersatu
Zainuddin yang akhirnya meninggal setelah kekasih hatinya, Hayati pergi terlebih dahulu

Apakah cinta begitu membius, sehingga membuat anak manusia tak bisa lagi berpikir dengan logika?

--
Sebenarnya, aku bukan orang yang suka dengan hal-hal melankolis apalagi drama. Alay. Gak elegan. Lemah. Terlalu manja. Childish. Kayak gak ada kerjaan selain galau. Dan memang, sampai sebelum dia masuk ke kehidupanku, aku tergolong acuh dengan sesuatu yang berbau asmara.

Mungkin, karena aku selalu menjalin hubungan dengan orang yang naksir duluan, jadi rasanya yah, biasa aja. Sayang sih sayang, tapi ya gitu. Tidak se-greget sekarang. Hahaa..

Karena aku pernah naksir orang, oke, yang betul-betul suka, gak cuman cinta-cintaan atau hanya naksir sekelebat, cuman 2 kali seumur hidupku. Pertama, dengan senior kuliah. Kedua, ya dengan dia ini.

Aku mengagumi dia dari 2012, sejak semester 4 atau 5 mungkin, ketika idealisme mahasiswa masih tinggi, masih memuncak. Tersesatlah aku di blognya, langsung kagum pada pandangan mata pertama. "Wah, ini orangnya berkarakter, ya." Semangat dia, cara dia menulis postingan di blog hypnotized me quickly. Semua postingan dia langsung kubaca, langsung kelar. And then, I found a fact. Oh, dia udah punya cewek. Ya sudahlah, gak papa. Kan gak ada salahnya nge-fans.

Emang cewek kalo udah penasaran, lebih dahsyat dari penyidik KPK, ya. Aku langsung ketemu akun FB-nya dia, voila, dia accept beberapa bulan kemudian.

--
Dan hidup kami, masing-masing, berjalan normal. Selama menjadi teman virtual, walaupun sekampus, sekalipun, walau sedetik, kami tidak pernah ketemu. Luar biasa. Dan kalau ku-recall, kok bisa sampai sekarang, aku admire dia segitunya, padahal ketemu langsung aja gak pernah?

Hingga kemudian, ada suatu kejadian yang bikin dia invite BBM-ku. Yah, bisa ditebak sih. Kejadian itu pasti ada hubungannya dengan beasiswa. Hahaa.. sebenarnya apa lagi yang kami obrolin, kalo gak info-info seputar beasiswa?

Dan seandainya dia tahu, I smile so widely ketika ada notif, nama dia muncul, komen statusku di FB sejak dulu, bahkan sampai sekarang, aku masih aja suka cengengesan gak jelas. Ketika ada nama BBM dia muncul, walau cuman 4 huruf, aku senyam-senyum lagi sendirian. Dipikir-pikir, baru dia yang bisa bikin aku ke-GR-an setengah hidup,

Well, hingga kemudian ada kejadian konyol yang bikin aku baper gilak!! Gak konsen kursus, kerjaan stalking tiap malem, nge-galau tiap hari, sampai temen sekost komen, "Ah, masa Isna gini, sih. Cuman gara-gara cowok aja, lemah banget." Aku juga gak paham sebenarnya kemarin itu. Ternyata, dikasih harapan palsu emang segitunya, ya. Hahaa.. Sakit, tapi gak ada yang berdarah. (siahh, drama lagi)

Dan kemudian, ada temennya temenku yang datang. Bang Muluk dari Medan. Omaigat, aku berterimakasih sekali dengan dia, yang bertindak layaknya utusan Tuhan untuk menyelesaikan urusanku ini. Baru sekali ini, aku ketemu cowok ember (haha, sori bang Muluk), di mana embernya persis kayak ibu-ibu lagi ngerumpi.

Bagaimanapun, aku bersyukur dengan Tuhan yang sudah mengirimkan bang Muluk, sudah menjadi pihak ketiga (dalam konotasi baik) ke dalam kasusku ini. Jadi perantara untuk menyampaikan hal-hal yang lidahku kelu, gak bisa ngomong langsung ke dia.

--
Sekarang, kami terjebak dengan situasi LDR. Hahaa, udah gak pernah ketemu, LDR lagi. Dan dia super sibuk, sibuk yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Dan aku, berusaha memahami kesibukannya dia. Walaupun agak iri juga sih. Iri dengan orang-orang yang selalu berada di dekat dia. Iri dengan mantan-mantannya dia. Iri dengan kenapa dia punya waktu buat komen di instagram orang, komen di FB temennya dia, tapi read BBM aku aj nggak. Hahaha, kenapa aku yang super cuek ini, terjebak dalam semacam situasi melankolis seperti di sinetron?

Ada satu kejadian yang lumayan bikin sakit, sih. Tapi, sekali lagi, aku berusaha memahami. Ketika aku cerita sesuatu, dan dia komen, "Sebenarnya, kamu gak papa. Kamu cuma cari perhatian aja." Nyess.. denger itu, aku langsung speechless. Maaf kalo aku seperti itu di mata kamu, cuman kayak benalu, suka gangguin.

Sejak saat itu, aku BBM duluan jadi sungkan, mau nelpon izin dulu. Bahkan, kalau aku punya problem, mau cerita, aku mikir dulu, aku bakal ganggu dia, nggak. Aku bakal bikin dia ribet, nggak. Dan ujung-ujungnya, aku milih diam. Dulu, aku pernah denger ungkapan,

"Wanita itu memilih diam, dan akhirnya cenderung mengalah dan memendam rasa. Karena terkadang lebih sakit jika kita berbicara tapi tak didengarkan."

Kata temenku ketika aku curhat, "Sedikit riak juga perlu, Na, untuk mempertahankan eksistensi." Bener, sih. Kalau aku ngambek sampai 3 hari (kan batesnya segitu, tuh), dia bakal nyariin, nggak. Atau justru cuek, acuh, gak peduli? 

Tapi, jujur, aku masih gak berani. Satu alasan, aku tau diri aja sebagai wanita. Aku yang naksir duluan, dan aku ngerti posisiku. Untuk dekat dengan dia aja, udah syukur. Hahahaa.. aku masih gak punya nyali untuk meminta lebih.

Temenku komen lagi, "Kamu terlalu rendah diri, Na." Iya sih, mungkin. Karena dia -di mataku- terlalu sempurna buat aku. (haishh, sumpah, aku baper lagi pas nulis nih postingan)

--
Aku berharap, dia adalah jawaban dari doa yang selama ini selalu kucakapkan dengan Tuhan.
Dan ini serius, namanya kusebut jelas-jelas dalam doa, takut Tuhan salah alamat walaupun itu gak mungkin. Hahaa.. Merayu Tuhan lebih tepatnya. "Ya Allah, pliss dia ya Allah."

Aku selalu berdoa, yang terbaik buat dia. Terdengar klise, ya. Tapi, apalagi sih yang lebih romantis, jika pasangan tak saling bertemu pandang, tapi bertemu dalam doa, dan mendoakan yang terbaik buat kekasihnya?
 --

Kalo ada yang nanya, alay banget, sih, Na, nyampe tulis di blog? Hmmm... mungkin karena aku gak punya cukup keberanian untuk ngomong langsung, jadi kutulis aja. Siapa tau, dia bakal baca. Suatu hari nanti. Entah kapan. Walaupun aku yakin, dia gak pernah stalking nama aku di search engine Google -hal yang sebenarnya jadi hobi aku. :)

 "Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku terhadap seseorang yang membuatku semakin cinta dan dekat dengan-Mu."

(Dari aku, yang sebenarnya tidak pernah peduli dengan hal ginian, tapi untukmu, aku bersikap berbeda)

Blitar, 24 Februari 2016. 09.55 PM

1 comment:

  1. Aku pernah loh seperti Isna mendoakan seseorang semoga menjadi jodohku, tapi sayangnya akhir tahun kemarin, ketika membuka FB, kudapati fotonya sedang melangsungkan pernikahan :D

    Apa aku yang terlalu lama memendam perasaan, atau diriku yang terlalu egois dan bodoh saat itu karena tidak memahami kode - kode yang dia berikan beberapa tahun yang lalu >,< Soalnya kalau aku bertemu frontal ma dia, kadang ampek bingung mau ngomong apa, bergerak pun serasa susah. Seringnya dia dulu yang memulai pembicaraan. Hal terakhir yang kuingat tentang dia adalah saat dia menyapaku dengan senyum, tapi aku malah diam membatu. Hal terindah yang kuingat darinya adalah ketika istirahat, dia masuk kekelasku dan tanpa sadar menutup kedua mataku dengan telapak tangannya dari posisi membelakangiku seraya berkata " hayo tebak ini siapa? " Ealah malah jadi curhat, baper bawaanya :D

    iYa benar apa kata Isna, cinta itu memang membius, bahkan aku serasa lumpuh jika berhadapan dengannya, membuka mulut pun seolah tak mampu mengucapkan sepatah kata. Hihihi, aku juga heran kenapa sampai sebegitunya. Tapi ya sudahlah, takdir ada di tangan Allah. Setidaknya dia sudah menemukan kebahagiaan sekarang :)

    Untuk kasus yang Isna hadapin, aku juga berharap, semoga doa dan harapanmu terkabul. Semoga si Doi cepet sadar bahwa tak ada seorang wanita yang menaruh perhatian teramat dalam kecuali Isna semata terhadap dirinya :) Dan semoga cinta diantara kalian semakin mendekatkan dan hanya karena Allah semata, Amiiinnn :)

    ReplyDelete